REFLEKSI SEEKOR HOMO SAPIENS

Dalam pelajaran ilmu alam (fisika), refleksi atau yang disebut juga pemantulan diartikan sebagai; perubahan arah rambat cahaya ke arah sisi (medium) asalnya, setelah menumbuk antar muka dua medium. Sedangkan dalam kehidupan sosial, Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu (Nurhadi 2004: 51).

Dari kedua pengertian tersebut dapat saya artikan bahwa Refleksi adalah melihat diri sendiri sebagai tindak lanjut pantulan dari apa yang telah kita rasakan, pikirkan, dan kerjakan, tentunya ini bersifat ”past tense” yaitu berdasarkan kejadian-kejadian masa lampau. Jadi, menurut saya, refleksi itu perlu karena sebagai acuan bagaimana kita bisa mengevaluasi diri, menilai diri, atau lebih sederhana yaitu untuk bercermin pada diri sendiri. Berarti memang pantulan khan?

Sudah terlalu panjang lebar saya mendefinisikan kata ”refleksi”. Kenapa harus refleksi? ya kata ini terbesit dalam pikiran saya setelah saya malakukan sedikit petualangan hari ini, tidak seperti 2 atau 3 tahun yang lalu, saya (terpaksa) melakukan petualangan di peradaban modern, di kota, bukan sembarang kota, tapi kota berkelas dunia, kota Jakarta. Ya, meskipun lebih melelahkan dan memusingkan (tapi pemandangan wanitanya menghibur), dibandingkan berpetualang di gunung atau hutan, perjalanan di kota kali ini mengajarkan sedikit banyak tentang kehidupan bersosialisasi, kehidupan masyarakat modern (saya juga termasuk di dalamnya). Lalu apa hubungannya dengan refleksi? Peristiwa ini berawal dari slogan yang saya baca, terpampang jelas menempel di jembatan penyeberangan jalan; ”Jadilah dirimu sendiri…!”, tertempel dalam sebuah iklan produk. Jadi pertanyaan saya adalah kenapa musti menjadi diri sendiri? Apa itu penting? Dan lebih lanjut lagi saya bertanya, Siapakah identitas saya?

Saya? Tanpa saya pungkiri saya ini bukan makhluk murni __yang akan menjadi dirinya sendiri__, Kenapa? karena saya (atau mungkin semua orang) banyak mendapat teladan dan terinspirasi dari seseorang atau bahkan beberapa orang. Teladan adalah ”contoh” dan semestinya ditiru, sedangkan inspirasi berarti ”terilhami” yang semestinya jadi ter-lakukan. Contohnya saya sendiri, sampai hari ini saya adalah mahkluk yang terbentuk dari orang-orang dan lingkungan sekitar saya. Sejak kecil saya sangat kagum pada ayah saya, beliau adalah sesosok figur yang saya amati dan saya contoh tindak-tanduknya, demikian pula dengan kedua kakak saya mau tidak mau mereka adalah yang membentuk karakter saya. Sekarang, detik ini, saya sadar bahwa ternyata saya mengidolakan Bapak dan kedua kakak laki-laki saya, ya karena mereka adalah sosok maskulin yang saya kenal, yang terdekat. Sebagai laki-laki tentunya punya naluri menjadi sosok maskulin. Sepanjang perjalanan saya, banyak sosok lain yang menginspirasi bahkan saya tiru dalam kehidupan saya, di samping lingkungan yang membentuk karakter saya. Lalu dimana letak ”menjadi diri sendiri”-nya, sepayah itukah saya?

Tapi tunggu sebentar, seandainya kita hidup tanpa orang-orang ”hebat” yang pantas atau yang ingin kita tiru? Akan jadi apa kita? Saya pikir kita tidak akan menjadi diri sendiri. Kembali ke refleksi, kembali bercermin dan melihat diri, pada intinya menjadi diri sendiri itu berarti menjadi pribadi dari apa yang kita mau. Ya, menjadi apa yang kita mau, bukan menjadi apa yang mereka mau, atau apa yang lingkungan mau. Tidak peduli, ketika kita banyak terilhami, terinspirasi, atau bahkan meniru figure orang atau benda tertentu, selama itu keinginan murni diri sendiri itu sah-sah saja. Ya sah-sah saja, karena proses hidup yang kita jalani sampai sekarang, bukanlah benar-benar murni usaha atau ciptakan sendiri. Semua merupakan proses pembelajaran dari lingkungan, dengan cara hidup budaya para pendahulu masa lalu. Bahkan seorang Tarzan pun yang notabene hidup sendirian, tanpa didampingi makhluk sejenis (sebelum Jane datang…, mohon jangan membayangkan film Tarzan versi X). Ya, meskipun Tarzan hidup solitary, dia tetap belajar dari lingkungan, dari hewan di sekitarnya. Ya kita tidak akan benar-benar menjadi ”diri sendiri” yang murni, karena pada dasarnya homo sapiens itu adalah seekor makhluk sosial yang selalu belajar dan ‘meniru’.

Untuk menjadi diri sendiri, kita perlu bercermin melihat diri sendiri, menggali potensi diri, dan berusaha menjadi percaya pada diri sendiri. Saya sendiri adalah seekor homo sapiens yang mempunyai kadar percaya diri yang rendah, apalagi ketika sedang bercermin, hanya kekurangan diri yang saya lihat, stock unsur PDnya kurang. Ya saya harus berusaha mempertebal garis rasa percaya diri saya.

Jadilah percaya diri, dengan berhasilnya seseorang semakin menjadi percaya dirinya sendiri maka semakin terbentuklah identitas dirinya. Dia memliliki jati diri, yang dia hayati secara exsplisit (gamblang atau jelas) dalam menjalankan kehidupannya. sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berbagai desakan baik dari dalam maupun luar dirinya. Sehingga apapun keputusannya dapat dia pertanggungjawabkan. Dia tidak akan takut kehilangan identitasnya meskipun sedang berada ditengah-tengah keramaian.

Dengan berhasil menjadi diri sendiri, maka hal ini akan membuat hidupnya lebih terarah dan tidak meraba-raba, dan mempunyai tujuan yang jelas. Kita bisa ambil contoh dari orang buta. Kalau dia tidak memiliki rasa percaya diri, maka dia akan buta segalanya. Namun dengan adanya sikap percaya diri yang kuat, dia mampu setiap saat berjalan di kegelapan dan yakin bahwa dirinya sanggup melewati itu semua. Kelemahan dalam diri seseorang itu telah menjadikan energi yang memaksanya untuk, percaya pada dirinya sendiri.

Dan itulah yang menjadi kekuatan setiap orang. Dengan menjadi diri sendiri pula, maka kita akan dapat mengambil keputusan menyangkut dirinya secara tepat. Tidak begitu saja menggantungkan diri pada kehendak dan putusan orang lain menyangkut hal-hal yang penting dalam hidupnya. Dan orang orang semacam ini dapat lebih kritis terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Penguasaan diri menjadi salah satu pertanda, orang yang sudah menjadi dirinya sendiri (suryapost.com)

Akhirnya refleksi berakhir, meskipun masih mengambang, tulisan ini bukan bermaksud menggurui, hanya bercermin. Dan merefleksi diri saya sendiri yang kehabisan stock unsur PD, dan yang sedang selalu mencari jati diri.

Sumber : http://www.suryapost.com/2010/05/manfaat-menjadi-diri-sendiri.html?m=1

Posted from WordPress for Android

~ by S T E on April 29, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: