Meringis Pait di Awal

Akhirnya menginjakkan kaki di rumah, merasakan sapaan hangat bantal dan guling. Namun saat itulah saya merasakannya. Perutku mengetuk. Meminta jatah. Saya baru sadar, sudah 12 jam sejak terakhir saya mengisinya.  kuputuskan untuk mengintip meja makan: Kosong melompong. Kupacu adrenalinku untuk melawan rasa lapar, dan memasak kemudian.

Waktu memasakpun selesai, saatnya makan. Kucing bilik sebelah bergabung, menghampiri sambil berwajah memelas, mengemis belas kasihan. Eh, tak tahukah kau makhluk berkumis berkaki empat? 40 menit 19 detik yang lalu kau datang dan melihat dengan wajah aneh, melihat cara saya memasak. Oke benar, dapur saya selalu berantakan ketika saya memasak, karena keasyikan dan karena liar kelaparan tentunya. Tapi kau tak perlu memandang aneh, dan tertawa tersipu seolah mengejek menyaksikan cara saya memasak. Pandanganmu melukiskan penilaian tentang masakanku.

Sekarang? kau mengemis ketika saya menyantap hidangan ala master chef dadakan, ketika saya menjilat-jilat garpu, kau menatap tajam. Ngiler lagi. Tak akan kuberi, ejekku.

Kau terus menatap. Itu sangat mengganggu. Kau tahu bahwa saya mudah iba. Kali ini tidak, tekadku, karena barusan kau telah merobek harga diriku dengan tertawa tersipu, mengintip dari jendela, melihat saya memasak. Kuputuskan untuk mengangkat tangan sambil megacungkan garpu. Kau meloncat reflek ke belakang. Kemudian menunduk meringis ke arahku. Rupanya telur dadar hasil karya dunia, ikut terlempar karena ulah garpu. Weits, si kucing makan dengan bangga. Muka saya manyun bengong, pikiran kosong, dan seketika harga diri anjlok jatuh ke sumur tua yang dalam. Saya hanya bisa meringis pait sambil melihat ke atas langit-langit rumah.

Si kucing datang. Kutatap terus. Dia mendekat. Masih kutatap. Makin dekat. Makin kupelototin. Semakin dekat semakin terlihat. Terlihat tulang dada dan rusuknya yang menonjol, kering kerontang. Wajahnya pun tergambar lebih ceria, setelah makan telur dadar resep leluhur tadi. Si kucing ternyata berterima kasih, terdengar dari suara meongannya.

image

Minta satu lagi dong om…

Rasa lapar, dan lelah, telah membuat pikiran selalu berenergi negatif. Kucing kelaparan, kubilang makhluk pencela. Ah betapa memalukannya saya ini. Akhirnya, kamipun bersahabat, kusediakan piring kecil untuk si kucing makan, dan mangkuk berisi air minum. Dia tersenyum, kamipun menyantap makan malam kami dengan bangga, bangga karena berlaukkan telur dadar karya dunia warisan resep leluhur. Sejati, memang bikin bangga.

Meringis pait di awal, tersenyum manis kemudian. Ah indahnya berbagi, terima kasih makhluk berkumis berkaki empat. Kau menyadarkanku. Terima kasih Tuhan, Kau telah menyentil nuraniku, dengan hal yang kecil dan sederhana. Sekian.

Posted from WordPress for Android

 

 

 

~ by S T E on July 20, 2012.

3 Responses to “Meringis Pait di Awal”

  1. Bisa nulis yg ringan ringan juga plus gak datar2 amat alurnya klo dibaca

  2. puss pusss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: