Sampah

•August 28, 2014 • 1 Comment

Bau, berserakan, dan tidak berguna. Terkumpul mengonggok di pojokan kampung. Membusuk dan terurai menjadi tanah lembab setelah sekian lama, sambil terpisah dari bahan sintesis yang keras tak mau terurai.

Dan pada akhirnya, ditumpahkanlah dia pada tanaman hijau, semak, yang terlihat sedang belum mau berbunga. Bau nya yang busuk sama sekali belum tercium semak karena memang tersamar bau tanah di sekitar, yang kebetulan basah karena musim.

Setiap hari, bahkan setiap saat sampah mendengar keluhan semak, ketika panas menyengat, hujan mengguyur, dan angin meniup. Tak jarang pula semak bercerita tentang sesamanya yang terlihat lebih indah berbunga, subur berbuah, atau tumbuh meninggi, lebat. Sampah hanya bisa tersenyum, dan sesekali menghibur semak yang merasa sendiri. Sampahpun menjadi terbiasa, dan melihat keunikan dan keindahan semak. Sampai lupa tentang dirinya yang sampah.

Pada akhirnya, waktupun berlalu, sampah dan semak saling terbiasa. Sampah sangat menikmati, karena merasa berguna, menemani semak. Bau busuknya yang selama ini membuatnya jengah, justru menjadi berguna untuk semak. Semakpun mengakui bahwa sampah mempunyai banyak hal yang tidak dimiliki tanah biasa. Semak senang, berguna, dan itu membuatnya ingin selalu menjaga semak, dan membuatnya bisa tumbuh subur.

Semakpun kemudian berbunga lagi, dan terlihat lebih indah, indah melebihi apa yang sampah pikirkan sebelumnya. Dia bersinar, dan benar-benar cantik. Makhluk-makhluk di sekitarnya pun mengakui itu. Namun mereka pun mulai mencibir, keindahan bunga dirusak oleh sampah,  yang memang masih bercampur sampah sintetis keras. Sampah pun terdiam dan bingung, dan semakpun tersadar bahwa memang seperti itu.

Sampah kembali sadar, bahwa sampah hanya akan menggangu eksistensi semak. Seperti apapun di rubah, sampah tetaplah sampah, yang memang mau diolah seperti apapun tidak akan kembali ke fungsi awalnya. Semakpun, dipindah ke tempat yang lebih layak dan nyaman. Sampah memaklumi, dan memang seperti itu seharusnya.

Sampah akhirnya kembali menjadi seonggok gumpalan bahan tak berguna, dalam gumaannya dia masih berpikir. Sampah terlalu berharap, mau seperti apapun dia memang sampah. Semak bisa tetap tumbuh tanpa sampah, tetap berbunga indah, berbuah subur. Dapat tumbuh alami, tanpa sampah. Sampah hanya akan mengganggu keindahan dan wangi bunga, dan semak pasti lebih baik tanpa sampah.

Sampah tetaplah sampah, tapi paling tidak sampah bisa kembali  menumukan daya gunanya yang selama ini dia lupakan, meskipun tidak seperti semula. Terima kasih semak, semoga semakin berbunga dan subur berbuah.

Sekedar Akibat atau Kehendak

•June 14, 2014 • Leave a Comment

Sudah lama
kuajak kau bicara,
Sekedar lewat telponmu.
Kini kuberikan padamu
resep-resep itu
secara tertulis bagimu.

Saya juga tahu sungguh,
kau tak selalu terbantu
dengan kata-kata indah tidak perlu.
Namun kuterbitkan juga terkadang,
kau terlalu menggoda, periang.

Selalu kunasehatkan yang sama,
kepada yang kadang meminta kadang tidak,
Kadang hanya lewat, atau penat.
Dengan lagak seorang pujangga
yang menabur di angkasa
tanpa tahu benih jatuh di mana,
benih yang selalu sama
yang sesungguhnya diperolehnya
dari sumber lain di mana.

Sesungguhnya saya orang kecil,
yang bagaikan si aneh dungu dan kerdil,
menyepaki pujaan dunia modern kini,
mengganggu kau yang duduk menonton televisi,
kau yang menikmati santapan bermutu tinggi,
kau yang sibuk belajar, kerja pulang pergi,
dengan pertanyaan bodoh soal hati.

Namun saya tahu pasti,
Apabila merasa letih,
dan tak tahu apa penyebab yang inti,
sepatah katamu bisa punya arti,
bagaikan perut lapar bertemu nasi,
bagaikan pohon tua kering terhujani.

Tidak tahu apa yang salah dengan otakku,
yang tidak pernah menyesal telah bertemu.
Di sana, bulan berbisik kepada langit malu-malu,
Membisikkan tentang sebab akibat sinarmu,

Jika hukum sebab akibat adalah kepastian, lantas
adakah kehendak bebas?

Posted from WordPress for Android

Anak-anak Harus Sabar

•April 27, 2014 • 2 Comments

Pernahkah kau merasakan, bahwa anak-anak terheran-heran melihat kepicikan bodoh orang dewasa?

Kalau orang dewasa ngobrol, yang diomongkan kebanyakan soal angka. Kalau mereka berkenalan dengan orang, pertanyaan yang timbul adalah tentang miliknya, berapa penghasilannya, berapa ijazahnya, siapa koneksinya. Kalau bicara soal rumah, yang dicelotehkan ialah ”harganya ratusan juta rupiah”, supaya mendapatkan gambaran. Supaya mereka tahu rumah macam bagaimana yang dibicarakan.

Kalau kau bicara dengan anak-anak soal seorang teman, mereka bertanya, ”Apakah dia pengumpul kupu-kupu? Apakah dia pandai bersiul? Apakah dia bisa diajak bermain?” Kalau berbicara soal rumah, mereka ingin tahu apa warnanya, apa ada bunga di pekarangannya. Mereka bertanya, ”Adakah anjing di depan pintu gerbangnya? Apakah di dalamnya ada tempat bermain?’’

Apapun yang disentuh anak-anak mempunyai kesegaran dan terasa begitu wajar, penuh warna dan kehangatan. Orang dewasa tak bisa mengerti. Memang begitulah, orang dewasa bicara soal penghasilan dan selalu memikirkan uang.

”Oleh karena itu, anak-anak harus sabar bila menghadapi orang dewasa,”

image

Capung, Bioindicator yang Terancam Punah

•April 17, 2014 • Leave a Comment

Pada suatu siang yang selo, dengan cuacanya yang panas menyengat, tanpa sengaja saya melihat seekor capung yang sedang berburu santapan, untuk makan siang. Kebetulan waktu itu, saya juga sedang menunggu waktu menuju jam makan siang. Baiklah capung, saya sempatkan diri untuk menemanimu, sejenak melupakan rasa lapar.

Saat itu si capung, Army Dragonfly, dengan gesit mencoba menangkap seekor lalat, yang juga sigap terbang mecoba menyelamatkan diri. Karena kelihaian gerakan mereka, mata saya cukup kesulitan untuk mengikuti gerakan kedua serangga tersebut. Mirip seperti melihat Cell (dalam wujud sempurna) yang sedang bertarung di udara melawan Songohan (eh?). Bola mata saya dibuat berputar-putar, berliuk-liuk mengikuti kecepatan gerakan mereka. Saya menatap serius sampai bengong, dengan mulut yang masih tertutup rapat tentunya (siapa tahu ada  yang nyasar masuk, siapa tahu?).

Akhirnya setelah beberapa detik, tepat sebelum mata saya hampir menjadi juling, si capung berhasil menangkap si lalat. Makan siang pun sudah siap bagi si capung. Saya? Saya hanya bengong melihat si capung makan. Sambil menahan rasa lapar, saya menyempatkan untuk mengambil gambar foto si capung, yang sedang bangga menyantap hasil buruannya.

imageMau mas ? Eh, nyari sendiri sana

(Army Dragonfly, Libellulidae: Orthetrum sabina)

Si capung, yang hampir saja membuat mata saya juling, mempunyai nama umum: Slender Skimmer, Green Skimmer, Green Marsh Hawk, Oasis skimmer , Variegated Green Skimmer (Inggris). Di Indonesia biasa disebut capung hijau, atau ada juga yang menyebutnya capung badak. Capung merupakan serangga bersayap (pterygota), dimana sayapnya tidak dapat dilipat (palaeoptera) . Dibandingkan jenis capung lain, capung hijau ini termasuk jenis capung yang paling mudah beradaptasi dengan lingkungan, paling agresif dan biasa memangsa jenis capung yang lain.

Kenapa saya tertarik untuk membahas serangga ini ? Karena dia hampir saja membuat mata saya juling. Bukan, bukan itu. Saya tertarik karena Dragonfly, Naga Terbang, yang masuk Ordo odonata ini ternyata adalah salah satu bioindikator, penanda air kehidupan. Capung menjadi indikator air bersih dan lingkungan sehat karena kehidupan capung tidak dapat dipisahkan dengan air. Begitulah kira-kira yang saya pahami dari tulisan di rubrik Iptek Kompas, 3 Januari 2014 lalu. Jadi Capung dengan ratusan jenis spesiesnya merupakan penanda adanya sumber air bagi kehidupan di suatu tempat. Langkanya atau sulit ditemukannya capung-capung di suatu tempat yang semula menjadi habitat binatang ini menjadi salah satu penanda bahwa tempat tersebut telah mengalami perubahan lingkungan di mana kondisi air sudah tercemar dan menyebabkan terganggunya ekosistem Capung.

Sekarang capung sudah mulai sulit ditemukan, kalau pun ada biasanya adalah jenis capung hijau seperti pada gambar di atas (yang hampir membuat mata saya juling). Capung hijau memang lebih mudah beradaptasi pada lingkungan dimana capung-capung lain tidak mampu beradaptasi. Jenis capung lain seperti capung kuning/merah (Neurothemis terminata ), capung jarum, capung ekor kuning ( Potamarcha congener) lebih susah ditemui, karena mereka rentan terhadap perubahan lingkungan, habitat mereka berada di tempat berair dengan kualitas air yang masih baik dan bersih.

Semakin kita jarang menemukan capung, maka sebenarnya kita bisa menyimpulkan bahwa di tempat itu sudah dan sedang terjadi kerusakan lingkungan.

image Capung merah

Menurut penelitian Worldwild Dragonfly Assosiation, komunitas pencinta capung tingkat dunia, memasukkan capung yang ada di Indonesia ke dalam daftar merah atau terancam punah. Jumlah capung yang merupakan serangga kelompok keluarga Odonata itu terus berkurang akibat hilangnya sumber air yang menjadi habitatnya. (Tempo,2012)

Keberadaan capung menjadi nilai ukur atau indikator kondisi sumber air. Bahkan capung juga memiliki peranan penting untuk menjaga kelestarian lingkungan. Saat berbentuk nimfa atau larva, capung merupakan predator jentik nyamuk. Sedangkan saat dewasa, capung menjadi predator hama tanaman, seperti kutu daun, belalang, lalat, dan nyamuk. Saat capung berbentuk nimfa atau larva bisa hidup di air selama empat tahun. Sedangkan saat bermetamorfosis menjadi capung dewasa hanya bertahan empat bulan. Jadi, dengan siklus hidup yang cukup panjang, terutama di fase larvanya, maka keberadaan capung ini bisa cepat berkurang atau bahkan hilang karena pencemaran air, kerusakan lingkungan.

Dulu, saat saya masih kecil, saya tinggal di perumahan yang berdekatan lokasinya dengan lingkungan persawahan. Cukup mudah waktu itu menjumpai berbagai jenis capung, dari capung ukuran besar maupun ukuran kecil, capung hijau, kuning, biru, ataupun merah, termasuk jenis capung jarum yang beraneka macam warna dan jenisnya. Itu sekitar 15 tahun yang lalu, sekarang sudah sangat jarang ditemukan, kecuali si capung hijau (yang hampir membuat mata saya juling) masih bisa ditemui. Keberadaan capung yang semakin berkurang, kemungkinan disebabkan karena beberapa perubahan. Perubahan kondisi habitat, habitat mereka telah berkurang karena perluasan bangunan perumahan. Sawah, tempat mereka hidup di fase larva, air di persawahan banyak yang sudah tercemar obat racun serangga. Juga air sungai, sebagai tempat mereka bertelur dan berkembang sudah mulai tercemar limbah industri dan limbah rumah tangga. Jika masih seperti ini, bisa jadi beberapa tahun ke depan, bahkan si capung hijaupun akan sulit ditemui.

Capung merupakan salah satu penyejuk mata di siang hari yang panas. Sangat disayangkan jika capung yang juga sebagai penyeimbang ekosistem semakin berkurang keberadaannya. Memang, dibutuhkan kesadaran diri untuk menjaga lingkungan sekitar kita, dimulai dari diri sendiri saat ini juga, minimal ada usaha untuk tidak semakin memperparah dan menambah kerusakan lingkungan yang sudah terlanjur terjadi. Karena usaha terkecil dari diri sendiri, mulai dari sekarang, akan berpengaruh untuk masa mendatang. Kita hidup tidak sendirian. Think globally, act locally.

Jangan sampai anak cucu kita nantinya hanya bisa melihat gambar dan mendengar namanya saja. Atau hanya bisa melihat capung besi dengan baling-balingnya. Salam Lestari…

Sumber : http://m.tempo.co/read/news/2012/08/15/206423773/Indonesia-Ikut-Kongres-Capung-Dunia

Catatan, Gambar foto di atas diambil dengan kamera handphone, Sony Xperia Go. Karena mereka sangat sensitif dan pemalu, jadi gambar tersebut harus diambil secara diam-diam, mengendap-endap pelan, bahkan menahan nafas dan mematung selama beberapa detik. Gerakan tiba-tiba harus dihindari. Kesabaran sangat diperlukan saat itu, apalagi dengan perut yang masih kosong. Sekian.

Posted from WordPress for Android

Conversation of Two Apes

•January 25, 2014 • Leave a Comment

Pada suatu ketika ada seekor ras kera berjalan tegak, yang berkirim surat kepada temannya, sesamanya, Homo sapiens.  Demikian bunyinya:

Saudara Homo sapiens sapiens yang saya hormati, apa yang harus dilakukan seekor monyet yang telah berevolusi menjadi cerdas dan berjalan dengan kedua kaki, memiliki keterampilan, budaya, mitos dan hasil cipta, karya, karsa golongannya sendiri. apakah monyet itu harus merasa lain dari makhluk lain, mengakui paling mulia dan paling sempurna, ataukah ada PR yang lebih besar dari itu semua? mohon penjelasannya. Terima kasih

Jawab temannya:
Sdr. Homo sapiens sapiens spiritus yang saya hormati juga, Kera yang telah berevolusi itu, justru harus sadar bahwa berkah evolusi itu sendiri mempersyaratkan tanggung jawab yang lebih luas di bumi ini.

Dengan ditemukannya teknologi, sains, etika dan spiritualitas yang terkandung secara inheren dalam perjalanan evolusinya yang panjang dan melelahkan ini,  justru seharusnya ras kera besar ini diharapkan lebih bertanggung jawab untuk memelihara keberlangsungan kehidupan di dunia ini.

Pada jaman-jaman mitologis dulu, kerinduan dan rasa tanggung jawab ini terkandung dalam budaya dan dibakukan oleh agama-agama. Contohnya :

– Suku kubu dan Suku Anak Dalam hanya menebang pohon yang sudah masak umurnya.
– Masyarakat di mana Hindu dan Buddhisme jadi mayoritas, sering melepaskan burung dan ikan serta mahluk lain ke habitatnya. Sekalipun tujuan mereka bersifat rohaniah yaitu mengikis karma, namun tujuan ekologisnya jelas, yaitu mengembalikan pada alam ini mahluk-mahluk hidup agar tercipta keseimbangan ekologi kembali.
– Pula dalam budaya agraris Timur tengah, setelah 6 tahun musim tanam, tahun ketujuh tanah dibiarkan tidak ditanami. Bagi mereka itu hukum tuhan, namun bagi kita yang kenal sains, itu berarti memberi waktu bagi tanah untuk meregenerasi proses penyuburan tanah itu sendiri.

Dan ada banyak kearifan-kearifan lokal pada masyarakat kita, yang kalau sisi mitologisnya disingkapkan nampaklah sisi sisi komunalnya yang baik, misalnya tradisi tumpengan, larungan, dsb.

Jadi buat koloni ras kera besar yang sudah melek sains ini, hemat saya tidak perlu merasa sombong, besar kepala, adigung -adiguna terhadap saudara-saudara mereka yang belum begitu beruntung dalam evolusi ini. Justru ras kera besar hasil evolusi ini harusnya disadarkan akan betapa berat tanggung jawab mereka dalam dunia ini.

Sejak 10 ribu tahun terakhir, ketika ras kera besar mulai mengenal kampak dan berhenti dari nomaden, wajah bumi menjadi sama sekali berbeda. Terlebih setelah kera-kera besar cerdas ini menemukan cara untuk meningkatkan hasil produksi lewat industri.

Dulu kera besar ini adalah mahluk tak berdaya di ancam oleh singa, anjing liar, dan dicekam takut oleh dinginnya malam dan gemuruh halilintar ketika langit memuntahkan hujannya. Sekarang justru kera besar ini mengotori atmosfir dengan karbon, sisa pembakaran batu bara dan emisi gas berbahaya, menyampahi daratan dan lautan dengan limbah industri dan nuklir.

Kendala terbesar kera-kera besar saat ini juga adalah populasi yang tak terkendali. Dahulu nenek moyang kita hanya berkelamin pada waktu musim kelamin saja. Namun berkat evolusi, siklus bereproduksi itu bisa dipercepat dan menjadi kegiatan rutin yang menguras tenaga dan berpotensi menumpulkan daya kerja otak kalau tidak dimanage dengan baik.

Karena populasi yang sedemikian pesat ini maka kompleksitas hidup yang padat, tuntutan kemapanan hidup dan persaingan semakin tidak terkendali. Sehingga perhatian kera-kera besar ini melulu hanya ditujukan untuk kegiatan-kegiatan pemenuhan ekonomi, pada masalah perut dan di bawah perut.

Begitu pula dengan managerial pemerintahan dan ekonomi yang tidak efektif dan korup yang menciptakan segelintir kaum yang kayanya tidak ketulungan sedangkan sebagian besar orang hidup dalam kemiskinan yang begitu telanjang.

Dan, sayangnya sebagaian besar kera besar berjalan tegak di dunia ini masih senang membenamkan dirinya dalam mitos-mitos tentang asal muasal keberadaan mereka di surga sana, karena begitu malunya mereka jika mengaku bahwa mereka sebenarnya masih berkerabat dekat dengan simpanse dan bonobo.

Kera-kera besar berjalan tegak ini lebih senang menggadaikan harta kekayaan yang didapat dari perjalanan evolusi mereka yang mencengangkan ini, yaitu otak yang cerdas demi sejumput kepastian dan ketenangan hidup di alam baka.

Maka dari itu tidak aneh apabila mereka berlomba-lomba menginvestasikan harta mereka ke tabungan-tabungan surgawi semacam sumbangan ibadah, atau persepuluhan ke gereja yang kebanyakan dipakai untuk membuncitkan perut pendetanya, ketimbang memberikannya pada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkannya, demi pengentasan kemiskinan dan peningkatan mutu pendidikan.

Mungkin itu yang bisa saya sampaikan buat anda, maaf jika tidak memuaskan anda.

Tapi bro, kenapa ya kebanyakan manusia membutuhkan simbol-simbol yang terkesan irasional untuk mencapai hal ini dan itu. Dan saya rasa setiap manusia memiliki sifat dasar berupa kebutuhan untuk itu (simbol), seperti mitos, mantra, dsb ?

Memang begitulah realitasnya sdr. homo sapiens sapiens spiritus. Bukan hanya spiritualitas, bahkan sains pun membutuhkan simbol-simbol, konsensus dan paradigma dalam mengkomunikasikan ide-idenya.

Bedanya, sains didasari atas metodologi empiris-rasionalis, sehingga dari awal para saintis harus sadar bahwa ketika suatu saat ada pendekatan yang lebih ajek dalam memberikan suatu hal, maka pendekatan lama bisa ditinggalkan, jika ternyata keliru, atau diintegrasi ke dalam metodologi yang baru.

Kita bisa ambil contoh tentang geocentris yang terbukti salah dan digantikan dengan heliocentris yang benar.

Begitu pula gravitasi newtonian yang ternyata kurang sempurna kemudian diintegrasikan ke dalam relativitas Einstein.

Saat ini kita sedang menanti apakah hukum Relativitas Einstein dengan Mekanika Quantum bisa dipadukan dalam M theory, yang baru bisa dipahami secara matematis namun belum bisa dibuktikan secara empiris.

Bedanya dengan sains, agama dan spiritualitas menyandarkan dirinya melulu pada mitos, iman, dan pengalaman subyektif intuitif, yang ketika diverifikasi dan terbukti keliru, kebanyakan bisanya mencak-mencak dan mencap si lawan bicara sebagai monyet (eh, memang mirip sih), kafir, atheis, zionis, dsb.

Untuk itu harus diciptakan kesadaran yang besar pada jaman ini bahwa spiritualitas bukan untuk membawa si penekunnya pada pengalaman-pengalaman extra ordinary dan extra terrestrial, namun pada semangat untuk menyadari tanggung jawab kita di bumi ini, kini dan di sini bersama dengan orang-orang yang kita sapa sehari-hari. Buat apa kita memuja guru-guru masa lalu yang kita tidak tahu kebenaran historitasnya? Mereka benar-benar ada ataupun tidak ada kita juga tidak begitu yakin.

Untuk itulah perlu ada dorongan supaya setiap kera berdiri tegak ini berani dalam eretas jalan spiritualitasnya masing-masing.

Kita ini adalah guru sekaligus murid dari sekolah spiritualitas di Taman Bermain Bumi.

Kalau memang kita merasa bahwa simbol-simbol ketuhanan tertentu masih diperlukan, tidak jadi masalah. Namun sadari saja bahwa itu semua adalah alat psikologis yang terbatas. Kita memerlukannya sampai suatu saat kita sadar bahwa semua itu hanyalah kesadaran dalam diri kita sendiri. Seperti yang pernah saya tulis dalam postingan saya sebelumya;

Hidup adalah Sebuah Perayaan, bahwa Brahman, Tao, Substantia, Alam Semesta atau Tuhan tidaklah berpribadi atau Niguna Brahman. Karena tidak berpribadi maka tidak akan pernah ada komunikasi “aku dan kau” antara Tuhan dan manusia.

Dalam upaya Untuk mempermudah komunikasi dan mengejawantahkan kerinduan-kerinduan psikologis suci ini, maka manusia mengalegorikan dan mengantromorphiskan Totalitas kemisterian Alam Semesta ini dalam idea-idea sederhana yang manusia eh kera besar itu kenal pada jamannya, misalnya kepala suku, raja dan kerajaannya, dsb. Kemudian terbentuklah figur-figur tuhan yang insani, berpribadi dalam bias-bias budaya, bahasa, zeitgeist dan worldview koloni-koloni kera besar ini.

Tujuan dari semua itu apaan sih? Tidak kurang dan tidak lebih agar manusia dapat mencari makna terdalam dari arti kehadirannya ini di bumi, dalam untaian evolusi peradaban, dalam semburat sejarah, agar mereka menyadari bahwa kehidupan mereka itu begitu ringkih, hanya bertumpu pada helaan nafas masuk dan keluar.

Wah Apresiasi saya sangat besar atas tulisan anda, terima kasih.

Sama, apresiasi saya juga sangat besar pada teman-teman yang bersama-sama saya saling mencerahkan, termasuk anda.

image

Tulisan ini hanyalah perspektif dari sudut pandang yang berbeda, melihat tentang apa sebenarnya yang menjadi tanggung jawab manusia (yang mirip kera) dalam hal keduniawian. Bukan bermaksud anti Tuhan, atau pro Atheis. Tapi jika anda Atheis, bersyukurlah kawan, tanggung jawab kita tetap sama, tapi beban yang anda pikul lebih ringan, karena anda tidak mengenal tuhan. Oh, atau mungkin anda monyet yang bisa membaca? Oh, hebat, kenalan yuk.

Sumber gambar : www.earthintransition.org/category/chimps-plus/

Posted from WordPress for Android

Tuhan Hadir untuk Siapapun, Kapanpun, Dimanapun, dan dengan Cara Apapun

•December 26, 2013 • Leave a Comment

Desember 2013, banyak hal baru dan kejutan baru yang datang menghampiri saya. Lingkungan baru, rekan kerja baru, teman baru, bahkan musuh baru. Banyak hal-hal yang datang di luar kendali dan dugaan, dan mau tidak mau saya harus menghadapi dan menerimanya, meski itu di atas rasa keragu-raguan yang selalu datang berbisik atau hanya sekedar lewat seperti angin lalu. Tapi, terlepas dari itu semua saya yakin, atau lebih tepatnya saya mencoba menghibur diri saya sendiri, bahwa semua itu di bawah kendali dari “Sing Ngecat Lombok”. Itu semua adalah proses pembelajaran hidup, Sang Guru yang mempunyai rencana untuk menempa hidup saya. Dan pasti itu yang terbaik (masih menghibur diri). Teringat juga oleh kata-kata eyang Soe Hok Gie :

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa bisa kita mengerti, tanpa bisa kita menawar…
Terimalah, dan hadapilah…

Ya, paling tidak, kata-kata tersebut selalu saya ingat dan saya pegang, ketika saya merasa (selalu) ragu-ragu. Selalu ragu-ragu, itulah saya, si plegmatis yang memang hobi ragu-ragu, datar, dan suka tidak mau repot. Cukup! terlalu panjang lebar saya berbasa-basi. Oke, prolognya cukup sekian, mari kembali sesuai judul yang dimaksud. Sebenarnya, kali ini saya mau membahas soal keyakinan dan Tuhan, entah kenapa akhir-akhir ini saya sering ragu tentang hal itu. Saya ragu-ragu bukan tentang soal konsep ketuhanan dan keyakinannya. Saya hanya ragu tentang cara saya meyakini Tuhan, dan cara saya berkomunikasi denganNya, ini lebih ke soal hubungan pribadi denganNya, bukan soal agama yang saya anut. Memang, kebetulan saya beragama juga, ya kebetulan, karena konsep itulah yang dikenalkan pada saya, sejak saya lahir. Dan saya tidak mempermasalahkannya. Keluarga saya adalah keluarga yang sederhana, selalu mengajarkan tentang konsep ketuhanan melalui perilaku, kejujuran, dan hubungan baik dengan sesama, soal ritual dan cara saya berkomunikasi itu hanyalah cara untuk memperkuat diri dan batin ketika kita bertindak dalam melayani sesama. Jujur, hanya itu saja yang saya tahu soal agama saya, dan bagi saya itu cukup, karena yang penting adalah melayani sesama.  Cinta kasih.

Saya bukan ahli dalam hal agama, namun saya yakin bahwa Tuhan hadir tidak hanya melalui tempat ibadah dan agama. Saya banyak belajar dari hal-hal sekitar yang ada di kehidupan, bahwa Tuhan selalu hadir melalui hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Heran, banyak orang mempermasahkan soal perbedaan agama, soal perbedaan cara, seolah Tuhan hanya hadir melalui satu cara saja. Saya mencoba mengutip kata-kata seorang cendikiawan muslim, salah satu idola saya, Emha Ainun Najib, beliau berkata bahwa; “Agama itu cuma baju, yang penting adalah Tuhan.” Menurut saya itu tepat sekali, memang ada yang berpendapat bahwa; Agamamu agamamu, agamaku agamaku. Saya tambahkan juga, bahwa Tuhanku ya Tuhanmu. Meski berbeda cara dalam berkomunikasi, Tuhan kita tetap sama kawan, Tuhan adalah Sang Pencipta. Monyet juga tahu akan hal itu (kalau dia bisa ngomong, eh bisa ngga ya? Semoga bisa suatu saat).

Sebenarnya, saya paling malas berbicara soal agama, karena bagi saya hubungan manusia dan Tuhan adalah soal hubungan pribadi, tak perlu dikoar-koarkan, apalagi diperdebatkan. Saya akhirnya membahas juga tentang agama, karena saya sudah mulai risih akhir-akhir ini, banyak orang berdebat isu soal agama di media sosial, dan itu terlalu sering. Kenapa mesti seperti itu? Bingung saya. Bagi saya, orang yang berdebat soal perbedaan agama itu lebih buruk daripada orang yang berkelahi karena berebut makanan. Kenapa demikian? Ya, karena orang berebut makanan itu tujuannya jelas, mereka ingin bertahan hidup. Sedangkan, orang yang berdebat soal agama, itu buat apa, sudah pasti mereka adalah orang-orang pintar, namun seolah mereka hanya berpikir soal Tuhannya masing-masing, masing-masing yang mana? Tuhan mereka sama kok. Tuhan saya, kamu , mereka, kami, kita, dan juga tuhan si monyet juga sama kok. Kita, manusia, terlalu keblinger tentang istilah kebenaran. Konsep dosa, surga, dan neraka mestinya membuat kita belajar untuk menghargai hidup. Bukan malah belajar berlomba-lomba untuk menghindari dosa, merangkul surga, dan menendang neraka, tapi akhirnya lupa tentang untuk apa kita hidup. Sekali lagi, saya bukan termasuk penganut agama yang ahli, taat pun sepertinya juga kurang, tapi yang saya tahu bahwa berdebat soal keyakinan (pada Tuhan) itu adalah hal yang sia-sia. Pada akhirnya hanya akan mengkotak-kotak perbedaan. Primitif.

Tuhan tidak kampungan atau norak, Dia lebih pengertian dari yang kita kira.

Seorang Atheis, yang cara hidupnya menganut nilai-nilai kehidupan akan lebih dirangkul oleh Tuhan, daripada seorang (mono)Theis  yang ahli ilmu agamanya, tapi lupa tentang untuk apa dia hidup.

Saya bukan orang yang pintar dalam hal agama, saya kebetulan juga beragama dan sering malu karena telah beragama, malu dengan Tuhan. Untuk apa beragama? Jika kita mempermalukan Tuhan, mengaku telah mengenal Tuhan, tapi malah justru terlalu memuja agama. Agamakanlah Tuhan, bukan malah justru mentuhankan agama. Lalu Tuhan… apa agama-Mu ?

“Bila engkau berbuat baik, tak ada seorangpun yang akan menanyakan apa agamamu.” (Gus Dur)

Ya, Tuhan hadir untuk Siapapun, Kapanpun, Dimanapun, dan dengan Cara Apapun.

Jadi begitulah, kita terlalu memuja soal konsep kebenaran yang kita anut. Tapi kita lupa bahwa Kebenaran hanya ada satu, meskipun dilihat dengan cara yang berbeda-beda.

Maaf, jika pikiran saya dangkal. Saya menulis ini bukan untuk menghakimi, menggurui, ataupun mengecam. Saya hanya menyampaikan unek-unek saya, sedikit emosional juga memang bahasa yang saya pakai, makanya tulisan saya amburadul. Maaf, atas ilmu saya yang masih sangat cetek. Sekian.

Salam,
Semoga semesta selalu berbahagia…

Posted from WordPress for Android

Apa kabar malam

•December 20, 2012 • Leave a Comment

Apa kabar malam,
Kenapa kau murung hari ini…
Apa karena mereka tidak menginginkanmu,
Yakin tentang langit yang akan terbelah?

Mereka hanyalah sejumput makhluk tanpa harapan.

Apa kabar malam,
Kau adalah teman setia setiap kelam,
Pendengar cerita bodoh suram,
Yang memberi jawaban tersulam.

Malam, memang sahabat untuk orang yang pendiam.

Apa kabar malam,
Sampaikan rinduku kepada Bulan,
Yang tidak muncul detik ini kebetulan,
Aku selalu cinta sinarnya yang mengheningkan.

Malam, semoga besok Bulan kembali tersenyum. Menenangkan…

Apa kabar malam,
Aku memang pria bodoh diam-diam,
Yang bahagia di kejauhan, setiap melihatnya tersenyum.
Yang kebingungan pengin mendekat, setiap melihatnya murung, jatuh, dan menangis…

Sampaikanlah pada pecipta-mu, Bahwa ada pria bodoh yang ingin melindungi malaikat-Nya…

Apa kabar malam,
Aku masih sama sejak 10 tahun yang lalu,
Pria bodoh sok tegar dan kuat,
Yang sangat lemah di hadapannya.

Sekali lagi malam,
Sampaikan rinduku kepada bulan bersama malaikatNya.

Apa kabar malam,
Kau masih murung hari ini,
Semoga tidak besok…

21.12.2012, 00.12

 
%d bloggers like this: