Man in the Arena

       Bukanlah sang kritikus yang penting, bukan juga dia yang bercerita tentang si gagah yang terjatuh, atau dimana si pelaku mampu melakukannya dengan lebih baik.

      Kehormatan jatuh pada dia yang berada ditengah arena, yang wajahnya dikotori oleh debu, keringat dan darah, yang berjuang dengan berani, yang melakukan kesalahan, yang gagal lagi dan lagi, karena tiada perjuangan tanpa kesalahan dan kekurangan, tapi dia yang berjuang adalah pelaku, yang mengerti rasa entusiasme yang besar, penyerahan diri yang agung, yang manghabiskan dirinya untuk tujuan yang baik, yang pada saat dia yang terbaik, mengenali kemenangan dan pada saat dia yang terburuk, setidaknya dia gagal setelah berusaha dengan mati-matian, agar tempatnya tidak berada di antara jiwa yang dingin dan penakut, yang tidak pernah mengenal kemenangan ataupun kekalahan.

image

~ by S T E on February 9, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: