Mimic eggfly, Kupu-kupu Semasa Kecil

•September 7, 2012 • Leave a Comment

Pada suatu waktu, saya menyempatkan diri berjalan-jalan di kebun belakang di tempat saya bekerja, 5 menit sebelum jam istirahat, 11.55 WIB. Saat itu saya tertarik dengan kupu-kupu yang kebetulan berada di sekitar saya, ada kupu-kupu jenis skipper, kupu-kupu kecil berwarna kuning, dan kupu-kupu besar berwarna hitam dan orange. Waktu kecil saya menyebut kupu-kupu yang berukuran besar dengan sebutan kupu gajah. Ya, di daerah saya waktu kecil, di Solo, menyebutnya seperti itu. Waktu kecil saya gemar menangkap kupu-kupu, terkadang dengan kakak saya, kadang juga ditemani oleh bapak saya. Bapak saya inilah yang mengajarkan kepada saya sedikit pengetahuan tentang jenis-jenis kupu-kupu, seperti jenis kupu skipper favoritnya, termasuk sebutan tentang kupu gajah untuk kupu-kupu berukuran besar. Bapak saya memang pecinta binatang, dan itu ditularkan ke kami anak-anaknya.

Oke, kembali ke kebun di tempat saya bekerja tadi, disana saya melihat dua jenis atau tepatnya dua ekor kupu-kupu yang berbeda warna. Keduanya mempunyai ukuran dan bentuk morfologi sayap yang sama, namun beda corak warna sayapnya. Yang pertama berwarna hitam dengan bulatan-bulatan putih. Dan yang kedua berwarna orange dengan warna hitam di bagian bawah sayap. Kupu-kupu seperti ini pernah saya jumpai dulu, waktu saya masih kecil.

image

image

Kedua kupu-kupu tadi kemudian terbang saling mengganggu. Awalnya saya berpikir bahwa mereka berkelahi untuk berebut tempat. Setelah saya amati ternyata keduanya sedang memadu kasih. Lho ? Bukankah keduanya berbeda jenis? Terlihat dari warna sayapnya yang berbeda. Setahu saya, dulu waktu saya masih kecil, kupu-kupu jantan dan kupu-kupu betina mempunyai bentuk dan warna yang sama, kalaupun berbeda biasanya warna dan coraknya tidak berbeda jauh. Apakah sekarang serangga sudah mulai menyimpang, menyimpang perilaku seksualnya? Ah, sepertinya dunia ini memang sudah berada di ambang kiamat (sok tahu, padahal ilmu masih cetek). Saya pun merenung kemudian melihat ke atas, melihat langit sambil meringis penuh tanda tanya. Tanda apakah ini, Tuhan?

Sadar, sepertinya saya terlalu cepat menyimpulkan. Ya, pengetahuan saya soal serangga memang pas-pasan, masih cetek. Dengan memendam rasa tanda tanya yang besar, akhirnya saya putuskan untuk browsing informasi ke internet. Tersadarkan, bahwa begitu murah dan mudahnya informasi di jaman sekarang ini. Saya mulai  googling kemudian menulis black white butterfly dan klik web. Setelah satu persatu link web saya buka, akhirnya ketemu juga informasi yang dicari-cari. Dari web Butterfly Rainforest di sana tertulis bahwa kupu-kupu yang saya maksud tadi merupakan spesies Hypolimnas misippus. Menurut Wikipedia, kupu-kupu jenis ini dikenal karena polimorfisme dan mimikri-nya. Kupu-kupu betinanya mempunyai beberapa bentuk, dapat menyerupai kupu-kupu jantannya (yang mempunyai warna kehitaman dengan bintik putih di sayapnya) dan juga dapat menyerupai kupu-kupu spesies lain yang beracun (kupu-kupu dari spesies Danaus chrysippus dan Danaus plexippus).

Catatan : Polimorfisme adalah dua atau lebih jenis organisme yang berbeda yang hidup dalam populasi yang sama dari suatu spesies, sedangkan mimikri adalah keserupaan/ kesamaan suatu spesies dengan spesies lain untuk melindungi salah satu atau kedua jenis spesies dari ancaman yang mungkin ada.

Akhirnya, saya tahu bahwa kedua insan tersebut tadi sama sekali tidak menyimpang perilakunya. Keduanya memang kupu-kupu jantan dan kupu-kupu betina. Berdasarkan wikipedia spesies kupu-kupu ini disebut juga Danaid eggfly atau Mimic eggfly.

image
Male upperside, kupu-kupu jantan

image
Female upperside, kupu-kupu betina

Sedangkan untuk jenis Danaus chrysippus gambarnya adalah sebagai berikut :

image

Danaus chrysippus jantan, sumber : wikipedia

image

Danaus chrysippus betina, sumber : wikipedia

Setelah dibandingkan dari foto yang saya ambil dengan foto kupu-kupu Danaus chrysippus dari wikipedia, terlihat bahwa perilaku mimikri berlaku untuk Danaid eggfly betina yang menyerupai Danaus chrysippus. Saya kurang tahu pasti kenapa kupu-kupu yang saya jumpai ini, terutama betinanya, mempunyai wujud dan corak sangat mirip dengan Danaus chrysippus. Perilaku mimikri ini pastinya untuk perlindungan diri, menyerupai si Danaus chrysippus, supaya disangka beracun oleh predator atau ancaman lainnya. Kupu-kupu yang saya jumpai ini, Danaid eggfly atau Mimic eggfly, tersebar di Afrika, Asia, dan Australia. Mimic eggfly, Memang jenis kupu-kupu yang menarik.

Berbekal rasa iseng ditambah rasa ingin tahu, kamera ponsel, dan koneksi internet, akhirnya saya bisa tahu dan mengenal jenis kupu-kupu yang hebat ini. Kupu-kupu yang menarik di masa kecil, yang dulunya biasa saya sebut kupu gajah ini, akhirnya mampu saya identifikasi meski belum lengkap. Hobi semasa kecil, kembali kambuh. Dengan pengamatan ini, harapannya bukan hanya untuk sekedar tahu, melainkan untuk mengenal, karena dengan mengenal kita akan belajar mencintai dan memahami, kemudian timbulah perasaan ingin menjaga. Semoga…

image
kupu-kupu jenis Skipper, grass skipper.

Foto-foto Kupu-Kupu Danaid Eggfly (Hypolimnast misippus) dan skipper merupakan hasil jepretan HP Sony Xperia Go di desa Kaduagung, Gunung Sari, Serang, Banten.

Referensi :
en.m.wikipedia.org/wiki/Hypolimnas_misippus
http://www.flmnh.ufl.edu/butterflies/guide/black.htm

Meringis Pait di Awal

•July 20, 2012 • 3 Comments

Akhirnya menginjakkan kaki di rumah, merasakan sapaan hangat bantal dan guling. Namun saat itulah saya merasakannya. Perutku mengetuk. Meminta jatah. Saya baru sadar, sudah 12 jam sejak terakhir saya mengisinya.  kuputuskan untuk mengintip meja makan: Kosong melompong. Kupacu adrenalinku untuk melawan rasa lapar, dan memasak kemudian.

Waktu memasakpun selesai, saatnya makan. Kucing bilik sebelah bergabung, menghampiri sambil berwajah memelas, mengemis belas kasihan. Eh, tak tahukah kau makhluk berkumis berkaki empat? 40 menit 19 detik yang lalu kau datang dan melihat dengan wajah aneh, melihat cara saya memasak. Oke benar, dapur saya selalu berantakan ketika saya memasak, karena keasyikan dan karena liar kelaparan tentunya. Tapi kau tak perlu memandang aneh, dan tertawa tersipu seolah mengejek menyaksikan cara saya memasak. Pandanganmu melukiskan penilaian tentang masakanku.

Sekarang? kau mengemis ketika saya menyantap hidangan ala master chef dadakan, ketika saya menjilat-jilat garpu, kau menatap tajam. Ngiler lagi. Tak akan kuberi, ejekku.

Kau terus menatap. Itu sangat mengganggu. Kau tahu bahwa saya mudah iba. Kali ini tidak, tekadku, karena barusan kau telah merobek harga diriku dengan tertawa tersipu, mengintip dari jendela, melihat saya memasak. Kuputuskan untuk mengangkat tangan sambil megacungkan garpu. Kau meloncat reflek ke belakang. Kemudian menunduk meringis ke arahku. Rupanya telur dadar hasil karya dunia, ikut terlempar karena ulah garpu. Weits, si kucing makan dengan bangga. Muka saya manyun bengong, pikiran kosong, dan seketika harga diri anjlok jatuh ke sumur tua yang dalam. Saya hanya bisa meringis pait sambil melihat ke atas langit-langit rumah.

Si kucing datang. Kutatap terus. Dia mendekat. Masih kutatap. Makin dekat. Makin kupelototin. Semakin dekat semakin terlihat. Terlihat tulang dada dan rusuknya yang menonjol, kering kerontang. Wajahnya pun tergambar lebih ceria, setelah makan telur dadar resep leluhur tadi. Si kucing ternyata berterima kasih, terdengar dari suara meongannya.

image

Minta satu lagi dong om…

Rasa lapar, dan lelah, telah membuat pikiran selalu berenergi negatif. Kucing kelaparan, kubilang makhluk pencela. Ah betapa memalukannya saya ini. Akhirnya, kamipun bersahabat, kusediakan piring kecil untuk si kucing makan, dan mangkuk berisi air minum. Dia tersenyum, kamipun menyantap makan malam kami dengan bangga, bangga karena berlaukkan telur dadar karya dunia warisan resep leluhur. Sejati, memang bikin bangga.

Meringis pait di awal, tersenyum manis kemudian. Ah indahnya berbagi, terima kasih makhluk berkumis berkaki empat. Kau menyadarkanku. Terima kasih Tuhan, Kau telah menyentil nuraniku, dengan hal yang kecil dan sederhana. Sekian.

Posted from WordPress for Android

 

 

 

Tidak Ada yang Bahagia dengan Pekerjaannya

•July 6, 2012 • Leave a Comment

“Saya bahagia kok dengan pekerjaan saya, Mister.”

Berbahagialah jika Anda mencintai pekerjaan Anda. Namun, tunggu dulu, Jika Anda masih merasa iri (walaupun hanya sedikit) saat melihat tawa lebar dan senyum bahagia teman-teman Anda dengan pekerjaannya di facebook, twitter, dll, jangan dulu berkata seperti di atas. Tidak perlu malu mengakuinya, bung / bunga (kalau cewek nyebutnya apa ya). Toh menurut penelitian di Tanah Kebebasan (baca: United States of A******), 44% pekerja tidak bahagia dengan pekerjaannya.
Freaking 44% ! You’re definitely not alone.

Bagaimana mau bahagia, di dunia perkuliahan kita biasa mengerjakan sesuatu yang serba modern dan ilmiah, tiba-tiba dapat pekerjaan di tengah hutan hujan tropis dan disuruh nyebokin truk-truk kotor oleh senior-senior gila yang mungkin sudah bisa berfotosintesis karena kelamaan di hutan. Sungguh kegilaan ini namanya.

Biasanya sih perasaan tidak bahagia dengan pekerjaan ini disebabkan karena kenyataan yang ada di dunia kerja ternyata tidak sesuai dengan apa yang mahasiswa bayangkan saat masih kuliah. Ditambah lagi dengan semakin sedikitnya kesempatan kerja yg tersedia, jadi ya kadang mau tidak mau sebagian lulusan akan melamar kemanapun asalkan cepat dapat kerja. Dan begitu dapat kerjaan, tiba-tiba Anda sadar bahwa Anda tidak begitu menyukai pekerjaan tersebut, tapi….

…Tapi kamu akan bertahan karena… UANG, ya itulah kenyataannya.
Uang, milord, adalah seonggok benda aneh. yang selalu dapat menolong kamu saat kamu kekurangan beras dan sayur di dapur. Dari mulai susu bayi sampai susu bison, semuanya pakai uang. Ketika Anda tidak suka dengan pekerjaan Anda, tapi kenyataannya Anda masih mengerjakannya. Ya, mungkin salah satu alasannya adalah UANG. Namun, mau dikata apalagi. Duit yang dihasilkan mampu membuat orang tua menangis terharu bahagia, dapat membuat dapur di rumah tetap hangat dan beraroma, dapat membuat anak-anak tumbuh berkembang dengan sehat dan ceria.

Bagi beberapa orang, kondisi ini sangat menyebalkan. Bagaimana tidak ? Ketika idealisme masih menggelora di dada, pada saat yang bersamaan orang tua dan orang-orang tercinta menunggu uluran tangan Anda. Anda ingin menyelamatkan republik ini, tapi keluarga Anda juga ternyata perlu diselamatkan duluan. Bangsa Skrull sebentar lagi menginvasi bumi, tapi Anda masih sibuk menyiapkan powerpoint untuk bos
Anda demi sesuap nasi. Bagaimana ini, Tuhan….???

Yah, mau bagaimana lagi ? Itulah realitanya.
Sabarkan saja diri Anda di beberapa tahun pertama. Toh, Anda dibayar juga pakai uang bukan pakai ganja, jadi bisa Anda tabung buat membuka usaha atau melanjutkan sekolah. Dan lagi, Anda juga mendapatkan sesuatu yang bernama pengalaman (yang mungkin tanpa Anda duga-duga, akan berguna di masa depan Anda kelak). Percayalah bahwa semua yang kamu alami saat ini pasti akan membawa kebaikan nantinya. Sekian.

Saya mau melawan bangsa Skrull dulu. Oh tidak !? Zombie telah menginfeksi separuh dari manusia di bumi ! Aarghh..

sumber : theposkampling.com

Posted from WordPress for Android

REFLEKSI SEEKOR HOMO SAPIENS

•April 29, 2012 • Leave a Comment

Dalam pelajaran ilmu alam (fisika), refleksi atau yang disebut juga pemantulan diartikan sebagai; perubahan arah rambat cahaya ke arah sisi (medium) asalnya, setelah menumbuk antar muka dua medium. Sedangkan dalam kehidupan sosial, Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu (Nurhadi 2004: 51).

Dari kedua pengertian tersebut dapat saya artikan bahwa Refleksi adalah melihat diri sendiri sebagai tindak lanjut pantulan dari apa yang telah kita rasakan, pikirkan, dan kerjakan, tentunya ini bersifat ”past tense” yaitu berdasarkan kejadian-kejadian masa lampau. Jadi, menurut saya, refleksi itu perlu karena sebagai acuan bagaimana kita bisa mengevaluasi diri, menilai diri, atau lebih sederhana yaitu untuk bercermin pada diri sendiri. Berarti memang pantulan khan?

Sudah terlalu panjang lebar saya mendefinisikan kata ”refleksi”. Kenapa harus refleksi? ya kata ini terbesit dalam pikiran saya setelah saya malakukan sedikit petualangan hari ini, tidak seperti 2 atau 3 tahun yang lalu, saya (terpaksa) melakukan petualangan di peradaban modern, di kota, bukan sembarang kota, tapi kota berkelas dunia, kota Jakarta. Ya, meskipun lebih melelahkan dan memusingkan (tapi pemandangan wanitanya menghibur), dibandingkan berpetualang di gunung atau hutan, perjalanan di kota kali ini mengajarkan sedikit banyak tentang kehidupan bersosialisasi, kehidupan masyarakat modern (saya juga termasuk di dalamnya). Lalu apa hubungannya dengan refleksi? Peristiwa ini berawal dari slogan yang saya baca, terpampang jelas menempel di jembatan penyeberangan jalan; ”Jadilah dirimu sendiri…!”, tertempel dalam sebuah iklan produk. Jadi pertanyaan saya adalah kenapa musti menjadi diri sendiri? Apa itu penting? Dan lebih lanjut lagi saya bertanya, Siapakah identitas saya?

Saya? Tanpa saya pungkiri saya ini bukan makhluk murni __yang akan menjadi dirinya sendiri__, Kenapa? karena saya (atau mungkin semua orang) banyak mendapat teladan dan terinspirasi dari seseorang atau bahkan beberapa orang. Teladan adalah ”contoh” dan semestinya ditiru, sedangkan inspirasi berarti ”terilhami” yang semestinya jadi ter-lakukan. Contohnya saya sendiri, sampai hari ini saya adalah mahkluk yang terbentuk dari orang-orang dan lingkungan sekitar saya. Sejak kecil saya sangat kagum pada ayah saya, beliau adalah sesosok figur yang saya amati dan saya contoh tindak-tanduknya, demikian pula dengan kedua kakak saya mau tidak mau mereka adalah yang membentuk karakter saya. Sekarang, detik ini, saya sadar bahwa ternyata saya mengidolakan Bapak dan kedua kakak laki-laki saya, ya karena mereka adalah sosok maskulin yang saya kenal, yang terdekat. Sebagai laki-laki tentunya punya naluri menjadi sosok maskulin. Sepanjang perjalanan saya, banyak sosok lain yang menginspirasi bahkan saya tiru dalam kehidupan saya, di samping lingkungan yang membentuk karakter saya. Lalu dimana letak ”menjadi diri sendiri”-nya, sepayah itukah saya?

Tapi tunggu sebentar, seandainya kita hidup tanpa orang-orang ”hebat” yang pantas atau yang ingin kita tiru? Akan jadi apa kita? Saya pikir kita tidak akan menjadi diri sendiri. Kembali ke refleksi, kembali bercermin dan melihat diri, pada intinya menjadi diri sendiri itu berarti menjadi pribadi dari apa yang kita mau. Ya, menjadi apa yang kita mau, bukan menjadi apa yang mereka mau, atau apa yang lingkungan mau. Tidak peduli, ketika kita banyak terilhami, terinspirasi, atau bahkan meniru figure orang atau benda tertentu, selama itu keinginan murni diri sendiri itu sah-sah saja. Ya sah-sah saja, karena proses hidup yang kita jalani sampai sekarang, bukanlah benar-benar murni usaha atau ciptakan sendiri. Semua merupakan proses pembelajaran dari lingkungan, dengan cara hidup budaya para pendahulu masa lalu. Bahkan seorang Tarzan pun yang notabene hidup sendirian, tanpa didampingi makhluk sejenis (sebelum Jane datang…, mohon jangan membayangkan film Tarzan versi X). Ya, meskipun Tarzan hidup solitary, dia tetap belajar dari lingkungan, dari hewan di sekitarnya. Ya kita tidak akan benar-benar menjadi ”diri sendiri” yang murni, karena pada dasarnya homo sapiens itu adalah seekor makhluk sosial yang selalu belajar dan ‘meniru’.

Untuk menjadi diri sendiri, kita perlu bercermin melihat diri sendiri, menggali potensi diri, dan berusaha menjadi percaya pada diri sendiri. Saya sendiri adalah seekor homo sapiens yang mempunyai kadar percaya diri yang rendah, apalagi ketika sedang bercermin, hanya kekurangan diri yang saya lihat, stock unsur PDnya kurang. Ya saya harus berusaha mempertebal garis rasa percaya diri saya.

Jadilah percaya diri, dengan berhasilnya seseorang semakin menjadi percaya dirinya sendiri maka semakin terbentuklah identitas dirinya. Dia memliliki jati diri, yang dia hayati secara exsplisit (gamblang atau jelas) dalam menjalankan kehidupannya. sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berbagai desakan baik dari dalam maupun luar dirinya. Sehingga apapun keputusannya dapat dia pertanggungjawabkan. Dia tidak akan takut kehilangan identitasnya meskipun sedang berada ditengah-tengah keramaian.

Dengan berhasil menjadi diri sendiri, maka hal ini akan membuat hidupnya lebih terarah dan tidak meraba-raba, dan mempunyai tujuan yang jelas. Kita bisa ambil contoh dari orang buta. Kalau dia tidak memiliki rasa percaya diri, maka dia akan buta segalanya. Namun dengan adanya sikap percaya diri yang kuat, dia mampu setiap saat berjalan di kegelapan dan yakin bahwa dirinya sanggup melewati itu semua. Kelemahan dalam diri seseorang itu telah menjadikan energi yang memaksanya untuk, percaya pada dirinya sendiri.

Dan itulah yang menjadi kekuatan setiap orang. Dengan menjadi diri sendiri pula, maka kita akan dapat mengambil keputusan menyangkut dirinya secara tepat. Tidak begitu saja menggantungkan diri pada kehendak dan putusan orang lain menyangkut hal-hal yang penting dalam hidupnya. Dan orang orang semacam ini dapat lebih kritis terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Penguasaan diri menjadi salah satu pertanda, orang yang sudah menjadi dirinya sendiri (suryapost.com)

Akhirnya refleksi berakhir, meskipun masih mengambang, tulisan ini bukan bermaksud menggurui, hanya bercermin. Dan merefleksi diri saya sendiri yang kehabisan stock unsur PD, dan yang sedang selalu mencari jati diri.

Sumber : http://www.suryapost.com/2010/05/manfaat-menjadi-diri-sendiri.html?m=1

Posted from WordPress for Android

goddess

•April 22, 2012 • Leave a Comment

image

Man in the Arena

•February 9, 2012 • Leave a Comment

       Bukanlah sang kritikus yang penting, bukan juga dia yang bercerita tentang si gagah yang terjatuh, atau dimana si pelaku mampu melakukannya dengan lebih baik.

      Kehormatan jatuh pada dia yang berada ditengah arena, yang wajahnya dikotori oleh debu, keringat dan darah, yang berjuang dengan berani, yang melakukan kesalahan, yang gagal lagi dan lagi, karena tiada perjuangan tanpa kesalahan dan kekurangan, tapi dia yang berjuang adalah pelaku, yang mengerti rasa entusiasme yang besar, penyerahan diri yang agung, yang manghabiskan dirinya untuk tujuan yang baik, yang pada saat dia yang terbaik, mengenali kemenangan dan pada saat dia yang terburuk, setidaknya dia gagal setelah berusaha dengan mati-matian, agar tempatnya tidak berada di antara jiwa yang dingin dan penakut, yang tidak pernah mengenal kemenangan ataupun kekalahan.

image

Berjalan Bersama

•January 22, 2012 • 3 Comments

untuk seseorang,
yang ingin kuajak melakukan perjalanan bersama,
saya akan selalu siap mempersiapkan segala perbekalan.
punggungku siap menggendong ransel perjalanan, dadaku pun siap menggendong tas perbekalanmu.

ya, kau tidak perlu repot…
bersedia menemaniku, itu sudah cukup.

untuk seseorang,
yang akan melangkahkan kaki, mendaki tanah terjal bersama,
saya tidak akan memaksamu mengikuti ritme langkah kakiku yang cepat.
saya akan selalu setia berjalan bersama, tanganku siap menuntun, punggungku siap menggendong jika kau telah letih.

ya, kau tidak perlu repot…
bersedia di sampingku, itu sudah cukup.

untuk seseorang yang akan menghabiskan waktu siang dan malam, di bawah atap langit yang sama dengan atap yang ada di atas kepalaku.
berkeluh kesahlah jika memang sudah letih, istirahatlah.
akan kudirikan tenda, kusiapkan api unggun, dan bekal di ransel siap untuk mengembalikan tenaga.
dan jika matamu sudah lelah, tidurlah di dalam tenda…
saya akan di luar, menjaga api unggun tetap menyala.

ya, kau tidak perlu repot,
bersedia berbagi denganku, itu sudah cukup…

kau mungkin akan melihat penampakanku yang jarang bicara, kaku, dan membosankan.
tetapi percayalah, tanganku selalu siap melakukan apapun yang kau butuhkan, telingaku siap mendengar suaramu, hatiku akan lebih banyak bicara dibandingkan mulutku.

untuk seseorang,
yang akan menghabiskan sisa umurnya bersamaku.
kau memang bukan yang terindah di mataku, tapi kau selalu terlihat yang paling menarik.

untuk seseorang,
semoga saya mampu mencukupkanmu.

22012012, 02.53 WIB.

 
%d bloggers like this: