Sampah

Bau, berserakan, dan tidak berguna. Terkumpul mengonggok di pojokan kampung. Membusuk dan terurai menjadi tanah lembab setelah sekian lama, sambil terpisah dari bahan sintesis yang keras tak mau terurai.

Dan pada akhirnya, ditumpahkanlah dia pada tanaman hijau, semak, yang terlihat sedang belum mau berbunga. Bau nya yang busuk sama sekali belum tercium semak karena memang tersamar bau tanah di sekitar, yang kebetulan basah karena musim.

Setiap hari, bahkan setiap saat sampah mendengar keluhan semak, ketika panas menyengat, hujan mengguyur, dan angin meniup. Tak jarang pula semak bercerita tentang sesamanya yang terlihat lebih indah berbunga, subur berbuah, atau tumbuh meninggi, lebat. Sampah hanya bisa tersenyum, dan sesekali menghibur semak yang merasa sendiri. Sampahpun menjadi terbiasa, dan melihat keunikan dan keindahan semak. Sampai lupa tentang dirinya yang sampah.

Pada akhirnya, waktupun berlalu, sampah dan semak saling terbiasa. Sampah sangat menikmati, karena merasa berguna, menemani semak. Bau busuknya yang selama ini membuatnya jengah, justru menjadi berguna untuk semak. Semakpun mengakui bahwa sampah mempunyai banyak hal yang tidak dimiliki tanah biasa. Semak senang, berguna, dan itu membuatnya ingin selalu menjaga semak, dan membuatnya bisa tumbuh subur.

Semakpun kemudian berbunga lagi, dan terlihat lebih indah, indah melebihi apa yang sampah pikirkan sebelumnya. Dia bersinar, dan benar-benar cantik. Makhluk-makhluk di sekitarnya pun mengakui itu. Namun mereka pun mulai mencibir, keindahan bunga dirusak oleh sampah,  yang memang masih bercampur sampah sintetis keras. Sampah pun terdiam dan bingung, dan semakpun tersadar bahwa memang seperti itu.

Sampah kembali sadar, bahwa sampah hanya akan menggangu eksistensi semak. Seperti apapun di rubah, sampah tetaplah sampah, yang memang mau diolah seperti apapun tidak akan kembali ke fungsi awalnya. Semakpun, dipindah ke tempat yang lebih layak dan nyaman. Sampah memaklumi, dan memang seperti itu seharusnya.

Sampah akhirnya kembali menjadi seonggok gumpalan bahan tak berguna, dalam gumaannya dia masih berpikir. Sampah terlalu berharap, mau seperti apapun dia memang sampah. Semak bisa tetap tumbuh tanpa sampah, tetap berbunga indah, berbuah subur. Dapat tumbuh alami, tanpa sampah. Sampah hanya akan mengganggu keindahan dan wangi bunga, dan semak pasti lebih baik tanpa sampah.

Sampah tetaplah sampah, tapi paling tidak sampah bisa kembali  menumukan daya gunanya yang selama ini dia lupakan, meskipun tidak seperti semula. Terima kasih semak, semoga semakin berbunga dan subur berbuah.

~ by S T E on August 28, 2014.

One Response to “Sampah”

  1. stlah jadi ahli psikologi ayam, sekarang bralih k psikologi sampah ‘n lingkungan.y [semak dkk.]… sippp…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: