Akan Sampai Kapan ?

Setiap hari, ada puluhan bahkan ratusan ribu pasang mata yang melihat penuh harapan ke arahku. Meskipun ketika berjalan di dekat kamu semua, kau terlihat gugup bahkan ketakutan, dari sanalah terlihat ada sorotan mata penuh harapan dan belas kasihan kepadaku. Sorot mata yang berpengharapan besar, harapan untuk tetap hidup, harapan untuk bisa hidup bebas, hidup bebas layaknya makhluk liar yang hidup secara wajar, berkembang biak, dan berbahagia bersama rekan-rekannya. Bukan hanya manusia yang mengharapkan keadaan bahagia seperti itu.

Ya benar, benar kalau kamu semua telah dieksploitasi oleh makhluk yang mendapatkan gelar mulia, dan klaim bahwa dia bebas menggunakanmu, menjadi tuanmu. Seperti itulah hidupmu, dibentuk dan dipenjara serta diperbudak demi urusan perut, demi urusan sekeping logam, dan selembar kertas, yang juga memperbudak si makhluk mulia tadi. Kamu semua memang bagian dari peradaban, bagian dari pemikiran yang brilian dari tuanmu. Domestikasi, kalian telah terdosmetikasi dari makhluk hidup bebas menjadi sebuah benda hidup layaknya mesin, mesin biologi. Tahukah kamu semua? sudah berapa ratus keturunan yang kau hasilkan, setiap satuan dari kalian. Mereka lahir dan besar sampai remaja, dan dihentikan kehidupannya sampai saat itu. Bahkan ketika mereka, keturunan-keturunanmu tadi, melebihi batas kebutuhan dari tuanmu, senantiasa mereka akan langsung dibantai, begitu mereka lahir dan bernafas. Hanya demi perut, sekeping logam, dan selembar kertas.

Saya berdiri disini, menjadi bagian dari sistem tersebut, selalu melihat ratusan ribu pasang mata yang penuh harapan. Bahkan sayapun jarang menoleh dan tersenyum ke arah kalian, saya hanya sibuk mengurusi media dan sarana yang membuatmu bereproduksi, berproduksi dengan baik. Satu dari kalian yang saya lihat hari ini, mustahil akan saya ingat besoknya. Maaf kawan, saya tidak berdaya, sayapun dituntut untuk tidak menganggap kalian makhluk hidup. Ya, pikiran saya dipaksa untuk menganggap kalian benda hidup, benda mesin, mesin biologi. Sudah lama saya berpikir dan merasa bersalah dengan keadaan ini, waktu dan tenaga saya yang terkuras tidak akan sepadan dengan pengorbanan kehidupan kawan-kawan selama ini. Sempat terpikir untuk berhenti, tapi itu tidak menyelesaikan, karena akan ada pengganti saya yang tetap akan tercetak seperti ini, pekerja tanpa belas kasihan.

Manusia, Peradaban, sampai kapan kalian akan seperti ini? Sampai kapan kawan-kawan sesama makhluk hidup ini akan menjadi budakmu? Sampai kapan semua akan tereksploitasi? sampai semua habis dan hanya tersisa setumpuk logam dan berikat-ikat lembaran di lemari? Sampai pada saat itu, kita tidak dapat memakan uang.

Maaf, kawan-kawan atas ketidakberdayaan saya, ingatkan saya untuk selalu memperlakukanmu dengan baik. Dan terima kasih, sudah menghidupiku selama ini.
Akan sampai kapan? Peradaban, sampai kapan kau akan terus memperbudak…

~ by S T E on October 11, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: