Untuk ke Sekian Kalinya

Tidak jarang bahkan sering, saya menyesali diri sendiri karena berkacamata. Saya sudah cacat mata, miopi (rabun jauh), sejak menginjak kelas 4 SD. Dan sejak saat itulah, saya merasa terbeban karena memakai kacamata, bagi saya kacamata adalah penghambat aktivitas, membuat minder, membuat wajah jadi terlihat (tambah) aneh. Saya pun membawa beban perasaan itu selama bertahun-tahun bahkan sampai saat ini juga. Tapi, terlepas dari itu semua, untuk kesekian kalinya pula saya merasa beruntung bahkan merasa terberkati karena berkacamata. Kenapa? Karena kacamata ini, pernah menyelamatkan saya dari kecelakaan-kecelakaan maut.

Yang pertama, peristiwa ini terjadi pada saat awal-awal saya kuliah, ketika bergabung dengan kelompok Pecinta alam di kampus. Berkat kacamata inilah saya jadi lepas dari maut ketika jatuh dari tebing, tebing yang setinggi kurang lebih 10 meter. Pada saat itu pipi kanan pendarahan, sobek tergores frame kacamata dan pelipis mata sebelah kiri terkena pecahan lensanya. Saat itu, posisi terjun ketika terjatuh adalah kepala saya di bawah. Saya tidak tahu, apa yang terjadi jika tanpa kacamata, bisa jadi wajah saya hancur karena mencium batu tebing.

Yang kedua, terjadi kemarin lusa, tanpa sengaja wajah saya menabrak besi atap seng, spontan, permukaan seng yang tajam langsung mengenai dan membentur bagian muka sekitar mata. Kacamata saya bengkok, dan hidung saya luka tergores. Bila tanpa kacamata, kemungkinan besar mata saya lah yang jadi korbannya.

Dan terakhir, insident terjadi pagi tadi, bagian sisi kepala sebelah kiri, pas dekat pelipis mata, terbentur besi (lingiran) dan mata saya pun terlindung oleh gagang kacamata saya yang bengkok.

Beruntung dan terberkati, itulah yang bisa saya rasakan. Sayapun merasa bersyukur karena berkacamata. Entah pemikiran saya ini hanyalah sebuah cara untuk menghibur diri atau pikiran positif yang dibisikkan oleh nurani bahwa saya masih terberkati dan dilindungi. Dari semua peristiwa tersebut, bisa saya simpulkan: ” Tuhan menghadirkan setiap kejadian untuk mengajarkan bahwa semuanya ada karena untuk sebuah alasan, sadar atau tidak, bahwa hidup itu untuk disyukuri, saat ini juga.”

Terima kasih Tuhan, karena saya berkacamata.


~ by S T E on May 28, 2011.

4 Responses to “Untuk ke Sekian Kalinya”

  1. no pain no gain

  2. no pain no gain…

  3. haha,,,*tos mas,,,
    sesama penderitaan,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: