Berpetualang di sela-sela Waktu Kerja

Kerja, kerja dan kerja, itulah aktivitas yang saya habiskan setiap hari beberapa bulan belakangan ini, di kota Serang, Banten. Saya bekerja di peternakan, yang kebetulan berada di daerah pinggir kota, dekat dengan daerah persawahan hutan.  Karena lokasi peternakan ini dikondisikan berada jauh dari pemukiman perkotaan. Maka tidak heran, setiap hari saya bekerja di sekitar pinggir hutan atau persawahan, berada pada lingkungan yang sejuk dan jauh dari polusi kota. Selama bekerja di sini, banyak petualangan dan hal-hal baru yang saya temukan, tidak jarang saya berpapasan dengan Biawak (paling sering), Ular Tanah, Ular Cobra, tupai, musang, burung elang, dan jenis-jenis fauna lain.

Rasa ingin tahu saya, selalu mendorong saya untuk “sedikit” berpetualang di sela-sela waktu kerja. Berikut adalah beberapa fauna yang sering saya temui di lingkunagan tempat kerja:

1. Biawak

Hewan ini adalah yang paling sering saya temui, sering kali saya melihat hewan ini di antara semak-semak di bawah rimbunan pohon jati, di dekat perairan sungai kecil atau di sekitar rawa-rawa.

Biawak adalah sebangsa reptil yang masuk ke dalam golongan kadal besar, suku biawak-biawakan (Varanidae). Biawak dalam bahasa lain disebut sebagai bayawak (Sunda), menyawak atau nyambik (Jawa), berekai (Madura), dan monitor lizard atau goanna (Inggris). Biawak umumnya menghuni tepi-tepi sungai atau saluran air, tepian danau, pantai, dan rawa-rawa termasuk rawa bakau. Di perkotaan, biawak kerap pula ditemukan hidup di gorong-gorong saluran air yang bermuara ke sungai. Biawak memangsa aneka serangga, ketam atau yuyu, berbagai jenis kodok, ikan, kadal, burung, serta mamalia kecil seperti tikus dan cerurut. Biawak pandai memanjat pohon. Di hutan bakau, biawak kerap mencuri telur atau memangsa anak burung. Biawak juga memakan bangkai, telur kura-kura, penyu atau buaya. Kata karyawan yang bekerja di sini, meskipun jarang, biawak ini juga memangsa ayam kecil yang ada di dalam kandang, karena pernah pada suatu kali si karyawan pernah menagkap dan membedah perut biawak tersebut, ternyata di dalam isi perutnya terdapat sekitar 5 ekor bangkai anak ayam.

Biawak berkembang biak dengan bertelur. Telur-telur biawak disimpan di pasir atau lumpur di tepian sungai, bercampur dengan daun-daun busuk dan ranting. Panas dari sinar matahari dan proses pembusukan serasah akan menghangatkan telur, sehingga menetas.

2. Ular Cobra

Kalau mendengar nama hewan ini, pasti langsung berpikir tentang perangainya yang agresif dan bisa yang mematikan. Jenis reptil ini saya temui pada saat saya sedang mengkontrol keadaan sekililing kandang. Secara tidak sadar saya hampir saja menginjak hewan melata ini, untung pada saat itu saya sedang melihat ke bawah, dan langsung menghentikan langkah kaki saya. Entah apa yang terjadi, jika saya menginjak ular ini, mungkin saya sudah berada di alam lain. Dua kali saya sudah bertemu dengan jenis hewan, dan keduanya berada pada posisi tersembunyi, yang pertama di antara sela-sela bangkai bangunan, dan yang kedua berada di antara semak-semak.

Ular sendok atau yang juga dikenal dengan nama kobra adalah sejenis ular berbisa dari suku Elapidae. Disebut ular sendok (Jw., ula irus) karena ular ini dapat menegakkan dan memipihkan lehernya apabila merasa terganggu oleh musuhnya. Leher yang memipih dan melengkung itu serupa bentuk sendok atau irus (sendok sayur).

Berbagai jenis kobra dapat memiliki warna dari hitam atau coklat tua sampai putih-kuning. Pada masa lalu, warna tubuh dan kemampuan menyemburkan bisa –melalui kombinasi dengan beberapa ciri lainnya– digunakan sebagai dasar untuk membedakan jenis-jenis kobra. Akan tetapi kini diketahui bahwa variasi warna dalam satu jenis (spesies) kobra begitu beragam, sehingga mustahil digunakan sebagai patokan pengenalan jenis. Sebagai teladan, ular sendok Jawa diketahui berwarna hitam kelam di Jawa bagian barat namun kecoklatan hingga kekuningan di Jawa timur dan Nusa Tenggara.

Jenis ular kobra yang ada di daerah lingkungan kerja saya adalah jenis ular Kobra jawa (Naja sputatrix), kerap menyemburkan bisa (bahasa Latin sputare, meludah). Menyebar mulai dari Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Komodo, Flores hingga Alor. Kemungkinan juga di pulau-pulau sekitarnya.

3. Ular Hijau

Disebut Ular hijau, karena memang ular ini hampir seluruh tubuhnya  didominasi oleh warna hijau. Ular ini benar-benar berkamuflase secara sempurna dengan lingkungan habitatnya, yaitu di dahan dan ranting-ranting pohon.  Hanya sekali saya melihat ular ini, secara kebetulan ular ini sedang melilit di pagar dekat mess, tempat tinggal saya.

Ular ini cukup panjang, ukuran badan kecil (seukuran ballpen), bentuk kepala segitiga, moncong meruncing. Dilihat dari morfologinya, terutama bentuk kepalanya yang segitiga, ular ini termasuk jenis ular yang berbisa. Saya belum menemukan pustaka referensi yang cocok untuk melengkapi keterangan tentang jenis ular hijau ini.

4. Elang Hitam

Kalau melihat elang ini, saya jadi teringat dengan Gunung Jobolarangan, daerah lereng Lawu Selatan (perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur). Karena burung ini sering kali terlihat di daerah Lawu tersebut, bahkan seringkali terlihat terbang berpasangan. Burung Elang hitam ini pun terlihat terbang di daerah tempat kerja saya, terbang pada siang hari sekitar jam 1 siang,. Burung ini terlihat eksotik dan mengagumkan saat melayang terbang di udara.

Elang Hitam adalah sejenis burung pemangsa dari suku Accipitridae, dan satu-satunya anggota marga Ictinaetus. Dinamai demikian yalah karena warna bulunya yang seluruhnya berwarna hitam. Meski ada pula beberapa jenis elang yang lain yang juga berwarna hitam.

Elang hitam dari Carita, Pandeglang, Banten

Burung yang berukuran besar, dengan panjang (dari paruh hingga ujung ekor) sekitar 70 cm. Sayap dan ekornya panjang, sehingga burung ini tampak sangat besar bilamana terbang. Seluruh tubuh berwarna hitam, kecuali kaki dan sera (pangkal paruh) yang berwarna kuning. Sebetulnya terdapat pola pucat di pangkal bulu-bulu primer pada sayap dan garis-garis samar di ekor yang bisa terlihat ketika burung ini terbang melayang, namun umumnya tak begitu mudah teramati.[1] Jantan dan betina berwarna dan berukuran sama.

Sayap terbentang lurus, sedikit membentuk huruf V, dengan pangkal sayap lebih sempit daripada di tengahnya, serta bulu primer yang terdalam membengkok khas, membedakannya dari elang brontok (Spizaetus cirrhatus) bentuk yang hitam. Elang hitam juga sering terbang perlahan, rendah dekat kanopi (atap tajuk) hutan, bulu Primer lebih menjari.

Terdapat 2 pose terbang, saat gliding (meluncur) dan soaring (mengintai). Saat gliding bulu paling ujung menekuk kedalam, dan saat soaring bulu ini terbentang dan terlihat menyamping. Bunyi meratap berulang-ulang, biasanya disuarakan sambil terbang tinggi berputar-putar, klii-ki …klii-ki atau hi-li-liiiuw. Burung remaja berwarna pucat, dengan coret-coret kuning pucat di sisi bawah tubuh dan sayap.

Elang hitam menyebar luas mulai dari India, Sri Lanka hingga Asia Tenggara, Sunda Besar, Sulawesi dan Maluku. Burung ini hidup memencar di dataran rendah, hutan perbukitan hingga wilayah yang bergunung-gunung pada ketinggian sekitar 1.400 m (di Jawa hingga sekitar 3.000 m) dpl.

Memangsa aneka jenis mamalia kecil, kadal, burung dan terutama telur, elang hitam dikenal sebagai burung perampok sarang. Melayang indah, burung ini kerap teramati terbang berpasangan di sisi bukit atau lereng gunung yang berhutan. Dengan tangkas dan mudah elang ini terbang keluar masuk dan di sela-sela tajuk pepohonan. Cakarnya yang tajam terspesialisasi untuk menyambar dan mencengkeram mengsanya dengan efektif.

Sarang berukuran besar terbuat dari ranting-ranting dan dedaunan yang tersusun tebal, diletakkan pada cabang pohon yang tinggi di hutan yang lebat. Bertelur satu atau dua butir, bulat oval, sekitar 65 x 51 mm, berwarna kuning tua bernoda coklat kemerahan. Di Jawa berbiak pada sekitar bulan Mei.

Sebagai burung pemangsa, elang hitam menduduki puncak rantai makanan dalam ekosistemnya. Meskipun populasinya masih terbilang banyak, burung ini menyebar terbatas di wilayah-wilayah yang berhutan. Elang hitam dilindungi oleh undang-undang RI. Sedangkan menurut IUCN, burung ini berstatus LC (least concern, beresiko rendah).

Selain Biawak, Ular Kobra, ular hijau, dan burung Elang Hitam, ada beberapa jenis fauna lain yang berhasil saya dokumentasikan. Berikut ini adalah beberapa hasil gambar yang saya ambil dari kamera ponsel saya (K320i, HP  jadoel) :

bangkong kolong (Bufo melanostictus Schneider)

Kodok bangkong ini sering terlihat berkeliaran di sekitar areal kandang ayam, dekat rawa-rawa, dan daerah-daerah lain yang lembab. Seringkali pula ditemukan bergerombol di bawah batu di sekitar rawa-rawa.

Kodok Bangkong ini berukuran sedang, yang dewasa berperut gendut, berbintil-bintil kasar. Bangkong jantan panjangnya (dari moncong ke anus) 55-80 mm, betina 65-85 mm. Di atas kepala terdapat gigir keras menonjol yang bersambungan, mulai dari atas moncong; melewati atas, depan dan belakang mata; hingga di atas timpanum (gendang telinga). Gigir ini biasanya berwarna kehitaman. Sepasang kelenjar parotoid (kelenjar racun) yang besar panjang terdapat di atas tengkuk.

Jenis kodok ini akan menggembung / membesar bila mendapat tekanan atau pukulan di bagian punggung (dorsal)-nya, yang kemudian akan melompat sambil menghempaskan gas dari punggungnya. gas yang keluar dari punggung tersebut mengandung racun dan berbau tidak sedap.

Bangkong ini kawin di kolam-kolam, selokan berair menggenang, atau belumbang, sering pada malam bulan purnama. Kodok jantan mengeluarkan suara yang ramai sebelum dan sehabis hujan untuk memanggil betinanya, kerapkali sampai pagi. Bunyinya: rrrk, ..rrrk, atau …oorek-orek-orek-orekk ! riuh rendah.

Belalang Kayu hijau (Dissosteira carolina)

Belalang Kayu coklat (Dissosteira carolina)

Belalang kayu coklat (Dissosteira carolina), merupakan salah satu jenis serangga favorit saya. Dulu sewaktu kecil saya sering berburu jenis serangga ini, karena saya suka dengan bentuk badannya, berukuran besar. Waktu kecil saya menyebut belalang ini dengan sebutan walang Graji, karena bentuk kaki belakangnya yang bergerigi besar dan tajam, mirip gergaji (graji). jenis belalang di atas adalah jenis Belalang Kayu (Dissosteira carolina), umumnya belalang jenis ini mempunyai 3 macam jenis warna kulit, yaitu coklat, hijau, dan kuning

Belalang adalah serangga herbivora dari subordo Caelifera dalam ordo Orthoptera. Serangga ini memiliki antena yang hampir selalu lebih pendek dari tubuhnya dan juga memiliki ovipositor pendek. Suara yang ditimbulkan beberapa spesies belalang biasanya dihasilkan dengan menggosokkan femur belakangnya terhadap sayap depan atau abdomen (disebut stridulasi), atau karena kepakan sayapnya sewaktu terbang. Femur belakangnya umumnya panjang dan kuat yang cocok untuk melompat. Serangga ini umumnya bersayap, walaupun sayapnya kadang tidak dapat dipergunakan untuk terbang. Belalang betina umumnya berukuran lebih besar dari belalang jantan.

Itulah beberapa jenis fauna yang serng saya jumpai di lingkungan saya bekerja. Masih banyak jenis hewan lain yang belum saya deskripsikan dan saya dokumentasikan, seperti tupai pohon, jenis ular tanah, dan musang.  Bagi saya mengamati dan menyaksikan hewan-hewan yang hidup bebas di sekitar adalah keasyikan tersendiri. Kegiatan semacam ini bisa mengurangi rasa kejenuhan ketika sedang bekerja.

Bekerja adalah perwujudan diri, dan dengan bekerja kita bisa menjadi lebih berguna. Saya selalu berusaha untuk tetap  mencintai pekerjaan, dengan berusaha menjadi pekerja yang baik dan jujur. Dengan menjadi pekerja yang baik, saya yakin bahwa saya tidak akan cepat jenuh dalam pekerjaan.  Dan salah satu cara untuk menghindari rasa jenuh saya adalah dengan tetap melestarikan minat dan hobi yang saya miliki. Berpetualang ! mencari hal baru, dan mengamati hewan-hewan unik itulah kesenangan saya. Mari kita lestarikan kesenangan dan kegemaran yang kita miliki, kita sayangi dan perhatikan lingkungan alam sekitar, maka duniapun akan tersenyum pada kita. Salam Lestari !

referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/

~ by S T E on July 11, 2010.

3 Responses to “Berpetualang di sela-sela Waktu Kerja”

  1. kwi sg moto dewe endi mas

  2. ulo cobra karo elang yang ada di sangkar, bukan aku yang moto…

  3. i like it…
    sngat mnyenagkn bila berpetualngan dengan keadaan sela2 krja..
    heheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: