Jejak-jejak Hidup Kemahasiswaan ku


Have a dream, I shall continue to work for

That a dream as long as life it self,

If necessary I shall even die for that dream.

(Dr. Marthin Luther King sebelum ditembak mati)

Beberapa tahun yang lalu saya memasuki gerbang kehidupan kemahasiswaan, sebagai seorang “pemuda hijau” yang lugu dan baru berumur belasan tahun, saya mulai menjadi mahasiswa di Fakultas Pertanian pada umur 18 tahun. Masa-masa mahasiswa adalah masa “pembelajaran yang sesungguhnya”, selain belajar sebagai seorang pelajar di bidang pertanian, saya juga belajar tentang kehidupan; tentang idealisme, konsistensi, kepemimpinan, kemandirian, kepedulian, dan bersosialisasi. Nilai-nilai tersebut tadi hanya bisa saya dapatkan pada kegiatan di luar perkuliahan, yaitu dari organisasi-organisasi di kampus yang saya ikuti. Kebetulan saya ikut organisasi kepecintaalaman (dari ketertarikan mendaki gunung) dan organisasi kerohanian. Dari organisasi kepencitaalaman saya banyak belajar tentang Totalitas untuk berproses; konsistensi, tanggung jawab, loyalitas, dan kepedulian (tentunya terhadap lingkungan, sebagai seorang pecinta alam). Dan dari organisasi kerohanian saya belajar tentang arti “pelayanan”. Kedua organisasi inilah yang membentuk, menempa, dan menjejali otak saya untuk mempunyai “idealisme” seorang mahasiswa.

Tanpa terasa jalan yang tadinya terasa amat panjang itu akhirnya sudah akan segera kuakhiri. Dan saat langkah-langkah terakhir diayunkan, timbul bermacam-macam pikiran, dan perasaan pada diri saya, seorang mahasiswa tua. Saya merasa bahagia, akhirnya keinginan saya untuk menjadi sarjana akan terwujud juga. Dengan perasaan bangga terhadap almamater saya, saya akan melangkahkan kaki keluar gerbang kampus dengan dibekali “ilmu” yang saya pelajari.

Romantisme

Tapi di satu sisi yang lain, timbul perasaan sedih dalam diri saya. Semua terasa begitu mesra, ”romantisme” yang dahulu pernah dirasakan pada saat ber-proses pun teringat kembali. Saya ingat kembali masa-masa kuliah, masa-masa belajar, masa-masa beradu argumen dan pemikiran, masa-masa menjadi pujaan para lawan jenis (yang ini masih perlu dipertanyakan), masa-masa menjadi senior (yang terkadang superior), masa-masa saling bersenda gurau dan membuat cerita jorok/murahan. Saya juga teringat masa-masa bersosialisasi dalam organisasi kepencintaalaman; mendaki gunung, tidur di hutan, kritis, berdiskusi, membuat poster anti kerusakan lingkungan, sering berselisih paham dengan petugas Kampus (karena masalah penebangan pohon), dll. Juga masa-masa berjualan koran, mengamen, jual jagung bakar, mengemis/ minta-minta ke dosen; untuk menyokong dana rekoleksi, retreat, ataupun ziarah ke gua Maria. Semua terasa hangat (meskipun pada saat itu melelahkan), semua terasa begitu cepat. Semuanya telah membuat saya dewasa dalam arti kata bahwa saya telah ditempa dalam suasana tersebut. Kebersaman, kekeluargaan, dan rasa senasib sepenanggungan itulah jejak yang masih tertinggal di benakku selama perjalananku menjadi mahasiswa.

Saya mencoba menoleh ke belakang — melihat jejak-jejak hidup kemahasiswaan saya. Kemudian saya memandang ke depan — melihat jalan yang akan ditempuh oleh adik-adik saya. Semuanya ini membuat saya bermimpi, mimpi seorang mahasiswa tua. (Soe Hok Gie)

Mimpi saya hanyalah supaya mahasiswa berkembang menjadi ”manusia-manusia biasa”. Menjadi pemuda dan pemudi yang normal, tidak mengingkari eksistensi nya sebagai seorang ”mahasiswa”, sebagai seorang manusia. Yang tidak mengemis-ngemis nilai, menjadi budak kampus, menjadi robot yang dikebiri kreativitas dan inovasinya. Menjadi manusia yang tetap mempertahankan idealisme nya menjadi seorang mahasiswa, tanpa terpengaruh agama, ras, budaya, kelompok, atau pun organisasinya.

Pada saat kuliah, mereka memasuki ruang kuliah dengan serius, berdiskusi, mendengarkan kuliah dari bapak dan ibu dosen, meskipun sesekali mengantuk. Dan sebagai seorang manusia yang tetap memerlukan kegiatan lain. Mendaki gunung, berorganisasi, berolah raga, membuat kreasi seni, atau membuat perlombaan-perlombaan. Kadang-kadang serius kadang tidak, berdikusi dengan topik yang verat, melihat film bermutu. Tapi perlu juga melihat film murahan yang mem-birahikan, atau yang membuat tertawa keras. Berdiskusi yang tidak-tidak dengan ide-ide gila yang sebelumnya tak terpikirkan sama sekali, di saat tekanan studi yang berat.

Munafik

Sebagai mahasiswa, pada saat-saat yang membuat idealisme tertantang, mahasiswa juga harus berani bertindak tegas. Tanpa ragu mengkritisi mereka yang merusak lingkungan, atau pun yang mengebiri kreativitas. Yang paling menyedihkan pada saat ini adalah bahwa banyak mahasiswa (terutama yang menonjol, yang mencantumkan dirinya sebagai pemimpin, atau pun sebagai yang merasa ”penting”) yang mengingkari hakikat kemahasiswaan dan kepemudaan. Suasana kemunafikan dan kepicikan tumbuh dan berkembang di lingkungan kampus, sering kali provokatif, ataupun menciptakan doktrin yang membodohkan. Sering kali saya melihat mahasiswa berlomba-lomba untuk menjadi suci, dengan tidak pada tempatnya. Kebetulan di fakultas  saya terdapat beberapa komunitas yang anti-pertunjukan musik/ band secara berlebihan, seolah yang menikmati pertunjukan tersebut adalah setan-setan yang merusak moral. Bahkan ada yang mendiskritkan organisasi Pencinta alam dan theater sebagai organisasi amoral dan bertentangan dengan nilai kesusilaan. Gaya yang slengekan, ekspresif, dan blak-blakan dianggap menentang budaya kesopanan. Interaksi pria-wanita yang akrab yang sebenarnya wajar, dianggap kurang pantas, serta seringkali dianggap tidak memperhatikan nilai-nilai agama. Dan kehidupan Mahasiswa-mahasiswi mau diatur menurut pola-pola abad XII, bahwa seks adalah suatu kejahatan, pacaran adalah membuang-buang waktu dan sumber kemaksiatan. Bahwa kebudayaan Barat adalah kebudayaan matrealitis, hedonis, dan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa dan Pancasila, bertentangan dengan Agama dan lain-lain.

Hakikat pemuda

Menurut saya, sebaiknya kita tidak mengingkari hakikat menjadi seorang manusia muda, bahwa dalam masa menjadi seorang mahasiswa, baik pemuda dan pemudi nya perlu bergaul secara bebas (dalam arti pertemanan/interaksi sosial), bersosialisasi, dan berekspresi. Sebab, pada masa ini mahasiswa membentuk kepribadiannya, mengenal orang lain, dan dari pergaulan ini, tumbuh manusia-manusia yang wajar.

Seperti yang saya tahu, kelompok-kelompok yang merasa dirinya benar, merasa sok suci, sering kali munafik dan lebih tidak ”wajar”. Mempunyai idealisme yang sempit dan radikal; sering ber-demo untuk memperjuangkan nasib rakyat; mengkritisi pemerintahan yang korup; kolusi yang meradang; nepotisme yang mendaging. Tapi pada saat lepas dari mahasiswa dan berperan sebagai pegawai, elit politik atau pejabat pemerintahan, tak luput juga dari godaan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Saya menyaksikan sendiri, kawan saya, mantan aktivis mahasiswa, melakukan manipulasi harga obat pertanian yang jelas-jelas merugikan nasib para petani, yang sebelumnya dia perjuangkan. Seperti yang kita tahu bahwa para elit politik dan pejabat pemerintahan yang sekarang menjabat kebanyakan adalah mantan aktivis mahasiswa, yang tak luput dari jerat KKN, lalu mana Idealisme yang dulu selalu dibanggakan dan diperjuangkan? Dan bisa saya katakan bahwa ”perjuangan” mahasiswa yang katanya memperjuangkan nasib rakyat, seringkali tidak murni, tidak jarang ditunggangi dan dibiayai partai politik, lalu mana Idealisme-nya? Berdasarkan pengamatan saya kelompok-kelompok mahasiswa tadi sering kali menyusup dan ”melebarkan sayapnya” ke organisasi Senat; BEM, DEMA, serta organisasi lain yang juga mempunyai posisi strategis untuk memperjuangkan pengaruhnya.

Beberapa bulan lagi saya akan pergi dari dunia mahasiswa. Masih banyak kaum/kelompok munafik yang berkuasa. Orang-orang yang pura-pura suci dan mengatasnama-Tuhan-kan segala-galanya, sampai-sampai pertunjukan musik/band dan mendaki gunung dibawa-bawa pada soal agama. Masih terlalu banyak serigala-serigala berbulu domba, tukang nyontek, penjilat-pengemis nilai yang berteriak-teriak soal Moral generasi muda, dan tanggung jawab mahasiswa terhadap rakyat. Masih banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, teman seidelogi dan lain-lain. Setiap tahun akan datang adik-adik dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi. Kebebasan mimbar tidak ada. Yang ada hanyalah slogan dan sejumlah kecil mahasiswa dan dosen, yang bekerja untuk mengubah kondisi seperti ini (Soe Hok Gie).

Yah, barangkali mimpi saya ini susah terlaksana, setidaknya isilah idealisme mu dengan menjadi seorang mahasiswa murni, manusia biasa yang sedang belajar. Bukan hanya cuma selalu meneriak-neriakkan kata ”Hidup mahasiswa !”, tapi juga hidup menjadi mahasiswa yang ”hidup” dan berkembang sebagai ”manusia wajar”.

Terima kasih kepada inspiratorku, alm. Soe Hok Gie, yang mengajarkan ”idealisme” yang sesungguhnya.

Inspirasi dan referensi: Soe Hok Gie, Zaman peralihan, 1995

~ by S T E on November 20, 2009.

One Response to “Jejak-jejak Hidup Kemahasiswaan ku”

  1. kok mirip ro critaku step, he.he…cuma aku luwing bruntung oleh pacar ro bojo.he.he…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: